Sabtu, 20 Mei 2017

Hubungan Ilmu Teori Sastra, Kritik Sastra, dan Sejarah Sastra

A. TEORI SASTRA DAN KRITIK SASTRA
Teori sastra adalah teori yang mempelajari kaidah-kaidah, hukum,
kategori, kriteria yang menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks sastra dan
bagaimana teks tersebut berfungsi dalam masyarakat. Aspek-aspek dasar
yang terdapat di dalam teks berupa aspek intrinsik dan aspek ekstrinsik yang
menyatu dalam membangun karya sastra menjadi suatu yang utuh. Aspek
intrinsik karya sastra meliputi konvensi bahasa  sebagai sarana sastra,
konvensi  budaya, dan konvensi sastra itu sendiri. Sedang aspek ekstrinsik
berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi timbulnya karya sastra,
seperti unsur budaya, aliran, psikologi, filsafat, agama, dan politik. Pada
hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di
dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya,
struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh,
penokohan, alur, latar, dan unsur luar lainnya yang membangun keutuhan
sebuah karya sastra.
 Teori sastra memberikan gambaran keutuhan karya
sastra dari berbagai segi yang membedakannya dengan karya nonsastra. 
Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji,
menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, memberi penilaian tentang
keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Kritikan diberikan
untuk memberikan masukan kepada penulisnya tentang kondisi karya yang
dihasilkannya dengan harapan akan menjadi bahan masukan baginya untuk perbaikan selanjutnya. Dengan kata lain, sasaran kritikus sastra adalah
penulis atau penghasil karya sastra.  
Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra dari sudut
keunggulan atau kelemahan karya sastra kritikus sastra tidak bersifat
subjektif. Dia harus bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi
sastra yang melingkupi karya sastra. Dia bekerja berdasarkan atas teori sastra
yang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya yang
ditelitinya. Dalam hal ini teori  sastra merupakan sumber rujukan bagi
kritikus sastra sehingga kritik sastranya bermakna bagi penulisnya.
Contoh:
Sebagai contoh untuk melihat keterkaitan  teori sastra dengan kritik
sastra  dapat Anda ikuti kutipan berikut ini!
           
Waktu ayah Chairil Anwar menikah lagi, ia merasa dirinya
diremehkan lalu ia pergi ke Jakarta  meninggalkan Medan  menolak
kehidupan teratur yang bisa diberikan seorang pegawai negeri Belanda
menghadapi hidup tanpa kepastian apa pun.   Chairil solider terhadap
ibunya. Ia mengikuti ibunya ke Jakarta. Waktu itu ia masih sekolah di
MULO. Di sana ia sudah memperlihatkan seseorang yang berbakat besar
menulis. Guru bahasanya meramalkannya akan menjadi penulis besar
nantinya. Kehidupannya di Medan adalah kehidupan anak yang
dibesarkan dalam kecukupan. Pergaulannya adalah pergaulan anak-anak
pegawai negeri. Setelah dia berada di  Jakarta, pola hidupnya waktu di
Medan masih terbawa-bawa. Ia bergaul dengan gadis-gadis Indo, rajin
ke pesta, serta akrab dengan tempat-tempat yang biasa digunakan para
pelajar sekolah MULO, HBS, dan AMS  berkumpul.
Sajak Aku yang sudah begitu terkenal sehingga menjadi trade mark
bagi kepenyairan Chairil Anwar yang selalu dibawakan dengan berapiapi
dan kepalan tinju bukanlah sajak pemberontakan tapi sebuah
pamitan yang getir dengan ayahnya yang mencoba membujuknya
kembali ke Medan tinggal bersama ayahnya. Ia menolak dan memilih
kehidupan yang jauh dari berkecukupan. Ia jauh dari politik.
Kalaupun ada sajaknya yang berbau politik, Diponegoro sajak ini
jauh dari ukuran-ukuran puisi-puisinya yang lain. Puisi ini tidak lahir
dari lubuk hati yang dalam, tetapi lahir karena terdorong dari semangat
zaman di kala itu.
           Asrul Sani, dalam Chairil Anwar, Derai-derai Cemara, l999
dalam ulasan dan kritik  terhadap puisi Chairil Anwar, Asrul Sani
mengungkapkan peristiwa batin yang dialami penyair sehingga terbit
1.28  Teori Sastra  puisinya Aku yang sangat terkenal bahkan merupakan lambang dari ‘keliaran’
Chairil Anwar. Ternyata persepsi yang salah oleh pembaca selama ini
terhadap puisi Aku  diluruskan oleh Asrul Sani melalui tabir rahasia
kehidupan Chairil Anwar yang memberontak terhadap ayahnya yang
menikah lagi dan dianggap menelantarkan ibunya dan dirinya. Demikian juga
penilaian yang dilakukan Asrul Sani terhadap puisi Diponegoro berdasarkan
atas latar belakang kehidupan pengarangnya. Dalam kritik sastra ini,  Asrul
Sani secara tidak langsung telah menggunakan teori ekspresif dalam
penciptaan karya sastra.
Dengan teori ekspresif sekaligus pendekatan
ekspresif ia mengulas dan memberikan  masukan kepada pembaca tentang
karyanya yang sudah sangat terkenal bahkan sudah menjadi ‘cap’ bagi
seorang Chairil Anwar yang dianggap hidup liar sebagaimana binatang yang
liar (jalang). Untuk mengkaji, menelaah, mempertimbangkan dan
menyatakan kelemahan karya sastra tidak akan mungkin dilakukan tanpa
pengetahuan teori sastra. 
B. TEORI SASTRA  DAN SEJARAH SASTRA
Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari
perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagian
dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Untuk mempelajari perkembangan
sastra berbagai cara dilakukan peneliti sejarah sastra. Teeuw mengemukakan
beberapa cara yang dapat dilakukan peneliti sejarah sastra, antara lain:
1. dengan melihat pengaruh timbal balik antargenre sastra. Misalnya,
bentuk syair dalam sastra klasik sering ditulis kembali dalam bentuk
prosa, 
2. dengan melihat pengaruh antarkarya sastra. Misalnya, dalam hasil
penelitian sastra ditemukan terjadinya kesamaan tema cerita dengan
pengembangan yang berbeda. Novel Belenggu, misalnya
memperlihatkan transformasi ide tentang keinginan wanita untuk maju
yang telah terungkap dalam novel Layar Terkembang pada waktu
sebelumnya. Korrie Layun Rampan mengemukakan pula cara untuk
melihat perkembangan sejarah sastra Indonesia yaitu dengan
membandingkan wawasan estetik, ciri-ciri, karakter, muatan tematik,
setiap angkatan sastra. Dengan mempelajari hal tersebut, akan dapat
diketahui perkembangan angkatan karya sastra dari waktu ke waktu, dari
periode ke periode. 
Dari uraian tersebut jelas diketahui bahwa diperlukan teori sastra untuk
menentukan perkembangan sejarah sastra. Untuk menentukan pengaruh
timbal balik antargenre sastra, perkembangan tematik, ciri-ciri, karakter
karya sastra diperlukan teori sastra dalam pengkajiannya. Sebaliknya, secara
empiris, perkembangan karya sastra memberikan sumbangan pula terhadap
perkembangan teori sastra. Demikianlah, dalam perkembangan  sejarah sastra
akan terjadi interaksi antara teori sastra dengan sejarah sastra.
C.  KRITIK SASTRA DAN SEJARAH SASTRA
Pada bagian sebelumnya sudah dikemukakan bahwa dalam kegiatan
kritik sastra, seorang kritikus sastra memberikan pertimbangan kepada
penulisnya dengan  menggunakan kaidah-kaidah, hukum, kriteria sastra yang
menjadi landasannya dalam   memberikan penilaian terhadap karya sastra.
Walaupun kritik sastra bersifat subjektif, tetapi kesubjektifannya berada pada
koridor sistem sastra. 
Di sisi lain, perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah,
suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para
peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau
persamaan-persamaan karya sastra pada masa-masa tertentu. HB. Yasin,
misalnya mengemukakan timbulnya Angkatan 66 karena tema-tema puisi
atau  prosa hasil karya penyair atau  pengarang pada masa itu berbeda dengan
tema-tema pada masa Angkatan 45. Korrie Layun Rampan mengemukan
pergeseran wawasan estetik para pengarang menyebabkan timbulnya
perubahan angkatan sastra. Untuk hal tersebut Korrie mengemukakan:
Pergeseran wawasan estetik ini ditandai oleh berubahnya struktur larik
dan bait.  Larik dalam puisi Chairil Anwar terikat dalam kesatuan
sintaksis yang memolakan sebuah bait, walaupun baitnya hanya  terdiri
dari satu larik, tetapi lariknya mengandung satu kesatuan ide yang
selesai. Larik pada puisi Chairil Anwar merupakan kumpulan
enjambemen  yang menghubungkan antarsintaksis, bahkan antarkata.
Selesaian bait biasanya berakhir dengan kejutan yang memberi sugesti
tertentu, baik sugesti magis maupun sugesti psikologis yang berujung
pada pertanyaan, berita, harapan, ataupun kengerian. Lain halnya
dengan puisi Afrizal Malna yang terbit jauh setelah Chairil Anwar. Larik
pada puisi Afrizal Malna  bersifat netral, bebas, bahkan nirbait. Puisi
tidak pernah punya selesaian karena sajak dapat dibalik secara
sungsang, baitnya dapat dibalik ke atas atau ke bawah sedangkan
maknanya tidak akan berubah. Larik sama kedudukan dan fungsinya
1.30  Teori Sastra dengan  bait karena larik itu sendiri merupakan bait.
Dengan revolusi tipografi semacam ini, Afrizal Malna merubah pola dasar plot  pikiran
dan tema  yang mengalir dari awal larik sampai akhir larik ke arah
komunikasi kata per kata di dalam sajak. Inilah penanda sudah lahirnya
satu generasi sastra yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Korrie Layun Rampan, Angkatan 2000 dalam Karya astra Indonesia .                                                                                 
            Dalam kutipan tersebut diketahui bahwa antara teori sastra, kritik sastra,
dan sejarah sastra terpadu dalam menjelaskan perkembangan wawasan estetik
antara masa kepenyairan Chairil Anwar Angkatan 45 dan kepenyairan
Afrizal Malna Angkatan  2000. 
Sumber :
Luxemburg, et.al. (1982). Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko.
Jakarta: Gramedia.
Tjahjono Libertus, T. (1986). Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan
Apresiasi. Ende, Flores: Nusa  Indah.
 

Selasa, 09 Mei 2017

Sintaksis

Pengertian Sintaksis
 Kata sintaksis berasal dari kata Yunani (sun = dengan + tattein = menempatkan). Jadi kata sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata menjadi kelompok kata atau kalimat. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan. Unsur bahasa yang termasuk dalam sintaksis adalah frase, klausa, dan kalimat. Tuturan dalam hal ini termasuk apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat. Menurut Ramlan (1981 : 1) mengatakan : “sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, kalusa, dan frase”.
1.      Frasa
Frasa adalah dua kata atau lebih yang tergabung dan memiliki satu makna yang dapat berubah sesuai dengan konteks. Jenis frasa dibedakan berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya dan ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata. Berdasarkan kesetaraan distribusi unsur-unsurnya, frase dibagi menjadi 2 :
Ø  Frasa endosentrik :  
a.       Frasa Endosentrik Koordinatif
Adalah frasa yang unsur-unsurnya setara dalam kalimat dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Contoh :
·         Kakek nenek
·         Suami istri
b.      Frasa Endosentrik Atributif
Adalah frasa yang unsur-unsurnya tidak setara sehingga tak dapat disisipkan kata penghubung dan, atau. Contoh :
·         Buku baru
·         Belum mengajar
c.       Frasa Endosentrik Apositif
Adalah frasa yang unsurnya bisa saling menggantikan dalam kalimat tapi tak dapat dihubungkan dengan kata dan, atau. Contoh :
·         Amin anak Pak Darto sedang belajar
Ø  Frasa eksosentrika
Adalah frasa yang tidak mempunyai distribusi yang sama dengan semua unsurnya. Contoh :
·         Di pasar
·         Ke sekolah
·         Dari kampung
Sedangkan berdasarkan segi persamaan distribusi dengan golongan atau kategori kata, frasa dibedakan menjadi :
a.       Frasa Verbal
Frasa verbal adalah frasa yang mempunyai inti kata kerja dalam unsur pembentukannya dan juga bisa berfungsi untuk pengganti kedudukan kata kerja didalam kalimat. Contoh :
Ø  Sedang mencuci
Ø  Baru pergi
Ø  Akan terbit
Ø  Tidak berenang
b.      Frasa Nomina
Frasa nomina adalah frasa yang mempunyai inti kata benda dalam unsur pembentukannya dan juga bisa berrfungsi untuk pengganti dari kata benda. Contoh :
Ø  Lemari kayu
Ø  Rumah beton
Ø  Buku tulis
Ø  Sepatu kain
c.       Frasa Adjektiva
Frasa adjektiva adalah frasa yang mempunyai inti kata yang berupa kata sifat di dalam unsur pembentukannya. Contoh :
Ø  Sangat hebat
Ø  Cukup baik
Ø  Lumayan cepat
Ø  Sangat dekat
d.      Frasa Pronomina
Frasa pronominal adalah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan pronominal (kata yang mengganti orang) dn hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat. Contoh :
Ø  Saya sendiri
Ø  Kami sekalian
e.       Frasa Numeralia
Frasa numeralia adalah dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan gramatik itu intinya pada numeralia. Contoh :
Ø  Tiga buah rumah
Ø  Lima ekor ayam
2.      Klausa
Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat serta berpotensi menjadi kalimat

Contoh Paragraf berita

 

a.       Frasa verbal                 : Pembangunan ulang
b.      Frasa nomina               : -
c.       Frasa adjektiva            : Lumayan Baik
d.      Frasa pronominal        : 25 triliun
e.       Frasa numeralia           : -