A. TEORI SASTRA DAN KRITIK SASTRA
Teori sastra adalah teori yang
mempelajari kaidah-kaidah, hukum,
kategori, kriteria yang menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks
sastra dan
bagaimana teks tersebut berfungsi dalam masyarakat. Aspek-aspek
dasar
yang terdapat di dalam teks berupa aspek intrinsik dan aspek
ekstrinsik yang
menyatu dalam membangun karya sastra menjadi suatu yang utuh.
Aspek
intrinsik karya sastra meliputi konvensi bahasa sebagai sarana sastra,
konvensi budaya, dan
konvensi sastra itu sendiri. Sedang aspek ekstrinsik
berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi timbulnya karya
sastra,
seperti unsur budaya, aliran, psikologi, filsafat, agama, dan
politik. Pada
hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang
terdapat di
dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya,
struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema,
tokoh,
penokohan, alur, latar, dan unsur luar lainnya yang membangun
keutuhan
sebuah karya sastra.
Teori sastra memberikan gambaran keutuhan
karya
sastra dari berbagai segi yang membedakannya dengan karya
nonsastra.
Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji,
menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, memberi penilaian
tentang
keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Kritikan
diberikan
untuk memberikan masukan kepada penulisnya tentang kondisi karya
yang
dihasilkannya dengan harapan akan menjadi bahan masukan baginya
untuk perbaikan selanjutnya. Dengan kata lain, sasaran kritikus sastra adalah
penulis atau penghasil karya sastra.
Untuk memberikan pertimbangan atas karya
sastra dari sudut
keunggulan atau kelemahan karya sastra kritikus sastra tidak
bersifat
subjektif. Dia harus bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan
konvensi
sastra yang melingkupi karya sastra. Dia bekerja berdasarkan atas
teori sastra
yang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya
yang
ditelitinya. Dalam hal ini teori
sastra merupakan sumber rujukan bagi
kritikus sastra sehingga kritik sastranya bermakna bagi penulisnya.
Contoh:
Sebagai contoh untuk melihat keterkaitan teori sastra dengan kritik
sastra dapat Anda ikuti
kutipan berikut ini!
Waktu ayah Chairil Anwar menikah lagi,
ia merasa dirinya
diremehkan lalu ia pergi ke Jakarta meninggalkan Medan menolak
kehidupan teratur yang bisa diberikan seorang pegawai negeri
Belanda
menghadapi hidup tanpa kepastian apa pun. Chairil solider terhadap
ibunya. Ia mengikuti ibunya ke Jakarta. Waktu itu ia masih sekolah
di
MULO. Di sana ia sudah memperlihatkan seseorang yang berbakat
besar
menulis. Guru bahasanya meramalkannya akan menjadi penulis besar
nantinya. Kehidupannya di Medan adalah kehidupan anak yang
dibesarkan dalam kecukupan. Pergaulannya adalah pergaulan
anak-anak
pegawai negeri. Setelah dia berada di Jakarta, pola hidupnya waktu di
Medan masih terbawa-bawa. Ia bergaul dengan gadis-gadis Indo,
rajin
ke pesta, serta akrab dengan tempat-tempat yang biasa digunakan
para
pelajar sekolah MULO, HBS, dan AMS
berkumpul.
Sajak Aku yang sudah begitu
terkenal sehingga menjadi trade mark
bagi kepenyairan Chairil Anwar yang selalu dibawakan dengan
berapiapi
dan kepalan tinju bukanlah sajak pemberontakan tapi sebuah
pamitan yang getir dengan ayahnya yang mencoba membujuknya
kembali ke Medan tinggal bersama ayahnya. Ia menolak dan memilih
kehidupan yang jauh dari berkecukupan. Ia jauh dari politik.
Kalaupun ada sajaknya yang berbau politik, Diponegoro sajak
ini
jauh dari ukuran-ukuran puisi-puisinya yang lain. Puisi ini tidak
lahir
dari lubuk hati yang dalam, tetapi lahir karena terdorong dari
semangat
zaman di kala itu.
Asrul Sani, dalam
Chairil Anwar, Derai-derai Cemara, l999
dalam ulasan dan kritik
terhadap puisi Chairil Anwar, Asrul Sani
mengungkapkan peristiwa batin yang dialami penyair sehingga terbit
1.28 Teori Sastra puisinya Aku yang
sangat terkenal bahkan merupakan lambang dari ‘keliaran’
Chairil Anwar. Ternyata persepsi yang salah oleh pembaca selama
ini
terhadap puisi Aku
diluruskan oleh Asrul Sani melalui tabir rahasia
kehidupan Chairil Anwar yang memberontak terhadap ayahnya yang
menikah lagi dan dianggap menelantarkan ibunya dan dirinya.
Demikian juga
penilaian yang dilakukan Asrul Sani terhadap puisi Diponegoro
berdasarkan
atas latar belakang kehidupan pengarangnya. Dalam kritik sastra
ini, Asrul
Sani secara tidak langsung telah menggunakan teori ekspresif dalam
penciptaan karya sastra.
Dengan teori ekspresif sekaligus
pendekatan
ekspresif ia mengulas dan memberikan masukan kepada pembaca tentang
karyanya yang sudah sangat terkenal bahkan sudah menjadi ‘cap’
bagi
seorang Chairil Anwar yang dianggap hidup liar sebagaimana
binatang yang
liar (jalang). Untuk mengkaji, menelaah, mempertimbangkan dan
menyatakan kelemahan karya sastra tidak akan mungkin dilakukan
tanpa
pengetahuan teori sastra.
B. TEORI SASTRA DAN SEJARAH
SASTRA
Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu
sastra yang mempelajari
perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode
sebagai bagian
dari pemahaman terhadap budaya bangsa. Untuk mempelajari perkembangan
sastra berbagai cara dilakukan peneliti sejarah sastra. Teeuw
mengemukakan
beberapa cara yang dapat dilakukan peneliti sejarah sastra, antara
lain:
1. dengan melihat pengaruh timbal balik antargenre sastra.
Misalnya,
bentuk syair dalam sastra klasik sering ditulis kembali dalam
bentuk
prosa,
2. dengan melihat pengaruh antarkarya sastra. Misalnya, dalam
hasil
penelitian sastra ditemukan terjadinya kesamaan tema cerita dengan
pengembangan yang berbeda. Novel Belenggu, misalnya
memperlihatkan transformasi ide tentang keinginan wanita untuk
maju
yang telah terungkap dalam novel Layar Terkembang pada
waktu
sebelumnya. Korrie Layun Rampan mengemukakan pula cara untuk
melihat perkembangan sejarah sastra Indonesia yaitu dengan
membandingkan wawasan estetik, ciri-ciri, karakter, muatan
tematik,
setiap angkatan sastra. Dengan mempelajari hal tersebut, akan
dapat
diketahui perkembangan angkatan karya sastra dari waktu ke waktu,
dari
periode ke periode.
Dari uraian tersebut jelas diketahui
bahwa diperlukan teori sastra untuk
menentukan perkembangan sejarah sastra. Untuk menentukan pengaruh
timbal balik antargenre sastra, perkembangan tematik, ciri-ciri,
karakter
karya sastra diperlukan teori sastra dalam pengkajiannya. Sebaliknya,
secara
empiris, perkembangan karya sastra memberikan sumbangan pula
terhadap
perkembangan teori sastra. Demikianlah, dalam perkembangan sejarah sastra
akan terjadi interaksi antara teori sastra dengan sejarah sastra.
C. KRITIK SASTRA DAN
SEJARAH SASTRA
Pada bagian sebelumnya sudah dikemukakan
bahwa dalam kegiatan
kritik sastra, seorang kritikus sastra memberikan pertimbangan
kepada
penulisnya dengan
menggunakan kaidah-kaidah, hukum, kriteria sastra yang
menjadi landasannya dalam
memberikan penilaian terhadap karya sastra.
Walaupun kritik sastra bersifat subjektif, tetapi kesubjektifannya
berada pada
koridor sistem sastra.
Di sisi lain, perkembangan sejarah
sastra suatu bangsa, suatu daerah,
suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang
dihasilkan para
peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan
atau
persamaan-persamaan karya sastra pada masa-masa tertentu. HB.
Yasin,
misalnya mengemukakan timbulnya Angkatan 66 karena tema-tema puisi
atau prosa hasil karya penyair
atau pengarang pada masa itu berbeda
dengan
tema-tema pada masa Angkatan 45. Korrie Layun Rampan mengemukan
pergeseran wawasan estetik para pengarang menyebabkan timbulnya
perubahan angkatan sastra. Untuk hal tersebut Korrie mengemukakan:
Pergeseran wawasan estetik ini ditandai
oleh berubahnya struktur larik
dan bait. Larik dalam puisi
Chairil Anwar terikat dalam kesatuan
sintaksis yang memolakan sebuah bait, walaupun baitnya hanya terdiri
dari satu larik, tetapi lariknya mengandung satu kesatuan ide yang
selesai. Larik pada puisi Chairil Anwar merupakan kumpulan
enjambemen yang
menghubungkan antarsintaksis, bahkan antarkata.
Selesaian bait biasanya berakhir dengan kejutan yang memberi
sugesti
tertentu, baik sugesti magis maupun sugesti psikologis yang
berujung
pada pertanyaan, berita, harapan, ataupun kengerian. Lain halnya
dengan puisi Afrizal Malna yang terbit jauh setelah Chairil Anwar.
Larik
pada puisi Afrizal Malna
bersifat netral, bebas, bahkan nirbait. Puisi
tidak pernah punya selesaian karena sajak dapat dibalik secara
sungsang, baitnya dapat dibalik ke atas atau ke bawah sedangkan
maknanya tidak akan berubah. Larik sama kedudukan dan fungsinya
1.30 Teori Sastra dengan bait karena larik itu sendiri merupakan bait.
Dengan revolusi
tipografi semacam ini, Afrizal Malna merubah pola
dasar plot pikiran
dan tema yang mengalir dari
awal larik sampai akhir larik ke arah
komunikasi kata per kata di dalam sajak. Inilah penanda sudah
lahirnya
satu generasi sastra yang berbeda dengan generasi sebelumnya.
Korrie Layun Rampan, Angkatan 2000 dalam Karya astra Indonesia .
Dalam kutipan tersebut diketahui bahwa antara teori
sastra, kritik sastra,
dan sejarah sastra terpadu dalam menjelaskan perkembangan wawasan
estetik
antara masa kepenyairan Chairil Anwar Angkatan 45 dan kepenyairan
Afrizal Malna Angkatan
2000.
Sumber :
Luxemburg, et.al. (1982). Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko.
Jakarta: Gramedia.
Jakarta: Gramedia.
Tjahjono Libertus, T. (1986). Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan
Apresiasi. Ende, Flores: Nusa Indah.
Apresiasi. Ende, Flores: Nusa Indah.
