Kata morfologi berasal dari kata morphologie yang berasal dari bahasa Yunani. Morphologie terdiri dari dua kata yaitu, morphe yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Jadi, menurut saya kata morfologi adalah ilmu bahasa mengenai seluk beluk dari bentuk kata atau pembentukan kata. Adapun menurut Ramlan pengertian morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk bentuk kata serta perubahan bentuk kata terhadap arti dan golongan kata. Bentuk kata yaitu :
a. Kata dasar, contohnya Lomba
b. Kata berimbuhan, contohnya Berlomba
c. Kata majemuk, contohnya Sikat gigi
d. Kata ulang, contohnya bermain - main
Proses morfologi ialah proses pembentukan kata – kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya.
B.
Macam – macam Proses Morfologi
1) Proses Pembubuhan Afiksasi
Afiksasi merupakan nama lain dari morfem terikat. Afiksasi terdiri atas:
a. prefiks atau imbuhan awal (ber-, me-, pe-, per-, di-, ter-, ke-, se-).
contohnya : Berjalan, percuma, diterima, kesana, melatih, pelaut, tertutup, serumah.
b. sufiks imbuhan akhir (–kan, –an, –i).
contohnya : siapkan, bersamaan, miliki.
c. infiks atau sisipan (–el-, -em-, -er-).
contohnya : telunjuk, mempunyai, terserah.
d. konfiks (ber-kan, ber-an, per-kan, per-an, per-i, pe-an, di-kan, di-i,me-kan, me-i,
ter kan, ter-i, ke-an).
contohnya : berhentikan, berlawanan, perlihatkan, perlakukan, menduduki, kedinginan, pemandian, menangkapi.
e. simulfiks (memper-kan, memper-i, diper-kan, diper-i).
contohnya : mempertahankan,
2) Komposisi atau Pemajemukan dalam Bahasa Indonesia
Komposisi adalah proses kata pemajemukan. Kata majemuk ialah gabungan kata dasar yang telah bersenyawa atau yang sudah membentuk satu kesatuan dan menimbulkan arti baru (Alisjahbana, 1953).
Contoh : Kamar + mandi = kamar mandi
Kamar Mandi dalam arti ‘tempat untuk mandi’ adalah kata majemuk, tetapi kamar mandi dalam arti ‘kamar yang mandi’ bukanlah kata majemuk. Pokok kata ( tidak bisa diartikan jika sendiri), tetapi setelah bergabung kemudian mempunyai arti sendiri maka disebut pemajemukan.
3) Pengulangan (Reduplikasi)
Pengulangan adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruh maupun sebagian, baik variasi fonem maupun tidak, hasil pengulangan itu merupakan kata ulang. Sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasar. Misalnya, rumah – rumah dari bentuk dasar rumah. Setiap kata ulang sudah pasti memiliki bentuk dasar. contoh Kata sia – sia, mondar – mandir. Cara Menentukan Bentuk Dasar Kata Ulang
a. Pengulangan tidak merubah golongan kata nomina, verb, dan subjek.
Contoh : Berkata – kata dari bentuk dasar berkata. Pada cara ini ada pengecualian yaitu pada imbuhan se- nya. misalnya setinggi – tingginya ini tidak merupakan pengulangan karena kata setinggi – tingginya merupakan kata keterangan.
b. Bentuk dasar berupa satuan dalam kehidupan bahasa Indonesia.
Contoh : Mepertahan – tahankan. Bentuk dasarnya bukan mepertahankan melainkan mempertahankan, karena mempertahan tidak terdapat dalam pemakaian bahasa Indonesia.
C.
Pengertian
Morfem dan Jenis – Jenis Morfem
Morfologi mengenal unsur dasar atau satuan terkecil dalam wilayah pengamatannya. morfem adalah satuan gramatikal yang terkecil,dan morfem mempunyai makna. Dalam ilmu bahasa dikenal satuan seperti kata,frase, klausa,kalimat. Dalam praktek morfem dapat dikenal dan ditemukan dengan jalan memperbandingkan satuan-satuan ujaran yang mengandung kesamaan dan pertentangan.
Berdasarkan kriteria tertentu, kita dapat mengklasifikasikan morfem menjadi berjenis-jenis. Penjenisan ini dapat ditinjau dari dua segi yakni hubungannya dan distribusinya (Samsuri, 1982:186; Prawirasumantri, 1985:139).
1. Ditinjau dari Hubungannya
Pengklasifikasian morfem dari segi hubungannya, dapat dilihat dari hubungan struktural dan hubungan posisi.
a. Ditinjau dari Hubungan Struktur
Menurut hubungan strukturnya, morfem dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu morfem bersifat tambahan, bersifat penggantian, dan yang bersifat pengurangan.
1) Morfem yang bersifat aditif (tambahan) yaitu morfem-morfem biasa yang umumnya terdapat pada semua bahasa, seperti pada urutan Putri, bungsu, -ya, sakit.
2) Morfem yang bersifat replasif (penggantian) yaitu morfem-morfem berubah bentuk atau berganti bentuk dari morfem asalnya. Perubahan bentuk itu mungkin disebabkan oleh perubahan waktu atau perubahan jumlah.
3) Morfem bersifat substraktif (pengurangan), misalnya terdapat dalam bahasa Perancis. Dalam bahasa ini, terdapat bentuk ajektif yang dikenakan pada bentuk betina dan jantan secara ketatabahasaan. Bentuk-bentuk yang ‘bersifat jantan’ adalah ‘bentuk betina’ yang dikurangi konsonan akhir. Jadi dapat dikatakan bahwa pengurangan konsonan akhir itu merupakan morfem jantan. Misal diketahui bentuk jantan / fraw / ‘ dingin ‘ kita tidak bisa secara tepat memastikan bahwa bentuk “ betinanya “ / frawd /. Berbeda jika bentuk betinanya yang diketahui, bentuk jantannya dapat dipastikan dengan mudah yakni menghilangkan sebuah fonem akhir, Misalnya / gras / ‘gemuk’ merupakan bentuk betina, maka jantannya patilah / gra /.
b. Ditinjau dari Hubungan Posisi
Dilihat dari hubungan posisinya, morfem dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu morfem yang bersifat urutan, sisipan, dan simultan. Tiga jenis morfem ini akan jelas bila diterangkan dengan memakai morfem-morfem imbuhan dan morfem lainnya.
1) Contoh morfem yang bersifat urutan terdapat pada kata berpakaian yaitu / ber-/+/-an/. Ketiga morfem itu bersifat berurutan yakni diawali imbuhan ber- ditengahnya kata dasar pakai dan akhirnya imbuhan –an.
2) Contoh morfem yang bersifat sisipan dapat kita lihat dari kata telunjuk. Bentuk tunjuk merupakan bentuk kata bahasa Indonesia di samping telunjuk. Kalau diuraikan maka akan menjadi / t…unjuk/+/-e1-/.
3) Morfem simultan terdapat pada kata-kata seperti kehujanan. Bentuk kehujanan terdiri dari /ke…an/ dan /hujan/. Bentuk /ke-an/ dalam bahasa Indonesia merupakan morfem simultan, terbukti karena bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk (kehujan) atau (hujanan)
2. Ditinjau dari Distribusinya
Ditinjau dari distribusinya, morfem dapat dibagi menjadi dua macam yaitu morfem bebas dan morem terikat.
a.
Morfem bebas ialah morfem yang dapat
berdiri sendiri dalam tuturan biasa. Misalnya : bunga, cinta, sawah, kerbau.
b.
Sedangkan Morfem terikat yaitu morfem
yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan biasa, misalnya : di-, ke-, -i, se-, ke-an.
Samsuri ( 1982:188 ) menamakan bentuk-bentuk seperti bunga, cinta, sawah, dan kerbau dengan istilah akar dan bentuk-bentuk seperti di-,ke-, -i, se-, ke-an dengan nama imbuhan. Sehubungan dengan distribusinya, afiks atau imbuhan dapat pula dibagi menjadi imbuhan terbuka dan tertutup. Imbuhan terbuka yaitu imbuhan yang setelah melekat pada suatu benda masih dapat menerima kehadiran imbuhan lain. Sebagai contoh afiks /per/ setelah dibubuhkan pada satuan /besar/ menjadi perbesar. Satuan /perbesar/ masih menerima afiks lain seperti /di/ sehingga menjadi /diperbesar/. Imbuhan /per/ dinamakan imbuhan terbuka, karena masih dapat menerima kehadiran afiks /di/.
Sedangkan yang dimaksud dengan imbuhan tertutup ialah imbuhan atau afiks yang setelah melekat pada suatu bentuk tidak dapat menerima kehadiran bentuk lain, misalnya afiks /di/ setelah melekat pada satuan /baca/ menjadi /dibaca/ tidak dapat menerima kehadiran afiks lainnya. Afiks /di/ merupakan contoh afiks atau imbuhan tertutup.
CONTOH PARAGRAF BERITA
Ø Morfem
bebas
1.
Memang 6. Bek 11. Dengan 16.
Bahaya
2.
Kalah 7. Untuk 12. Sayap 17. Dalam
3.
Performa 8. Itu 13. Yang
4.
Dengan 9. Sudah 14. Punya
5.
Tiga 10. Cukup 15. Seperti
Ø Morfem
terikat
1.
Tetapi
2.
Kalinya
3.
Memuaskan
4.
Pemain
5.
Kecepatan
Sumber:
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Alwi, Hasan, dkk (peny). 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar