Sabtu, 18 Maret 2017

Sejarah Lahirnya Bahasa Indonesia dan tahap tahap Kongres Bahasa Indonesia



Bahasa Indonesia adalah salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional yang mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Perjalanan yang ditempuh oleh bahasa indonesia tak terpisahkan dengan perjalanan yang ditempuh oleh bangsa Indonesia untuk merdeka. Sejalan dengan hal tersebut, sejarah perkembangan bahasa indonesia dapat ditinjau dari masa sebelum Indonesia merdeka dan masa sesudah merdeka.
        Peristiwa bersejarah yang monumental bagi bangsa dan bahasa indonesia adalah diikrarkannya sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta. Ikrar sumpah pemuda yang terdiri dari tiga butir yang diantaranya berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa indonesia”. Hal ini membuktikan bahwa adanya kebulatan tekad untuk menjunjung bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan.
            Nama bahasa indonesia baru dikenal sejak 28 Oktober 1928, yang sebelumnya bernama bahasa melayu. Bahasa melayu yang mendasari bahasa indonesia yang kemudian dijadikan bahasa persatuan. Namun, dari hal ini para sosiologi bahasa tertarik untuk meneliti kondisi apa yang memungkinkan bahasa melayu dipilih dan disepakati untuk dijadikan sebagai bahasa persatuan, mengapa tidak bahasa yang lainnya seperti bahasa jawa, sunda yang jumlah penuturnya lebih banyak dari pada bahasa melayu.

Proses Asal Mula Bahasa Melayu

Bahasa melayu tersebut mulai dipakai pada kawasan Asia Tenggara dari Abad ke-7. bukti-bukti yang menggemukan hal itu adalah dengan ditemukannya suatu prasasti di kedukan bukit karangka pada tahun 683 M (palembang), talang tuwo berangka pada tahun 684 M (palembang), kota kapur berangka pada tahun 686 M (bukit barat), Karang Birahi berangka pada tahun 688 M (Jambi) prasasti-prasasti tersebut bertuliskan suatu huruf pranagari berbahasa melayu kuno.
Perkembangan bahasa Melayu pada  wilayah Nusantara tersebut mempengaruhi dan juga mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan serta jugarasa persatuan bangsa Indonesia, oleh sebab itu para pemuda indonesia yang tergabung didalam suatu perkumpulan pergerakan dengan secara sadar mengangkat bahasa Melayu tersebut menjadi bahasa indonesia dan juga menjadi bahasa persatuan bagi seluruh bangsa indonesia. (Sumpah Pemuda, 28 Oktober tahun 1928).
Dan juga baru setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya di tanggal 18 Agustus Bahasa Indonesia tersebut diakui secara Yuridis. Dengan secara Sosiologis kita dapat mengatakan bahwa Bahasa Indonesia itu resmi di akui pada Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1928. Hal tersebut juga sesuai dengan butir ketiga pada ikrar sumpah pemuda yakni :
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Namun secara Yuridis Bahasa Indonesia tersebut diakui di tanggal 18 Agustus tahun 1945 atau setelah Kemerdekaan Indonesia.

Faktor penyebab terjadinya Bahasa Indonesia

Terdapat 4(empat) faktor yang menyebabkan bahasa Melayu tersebut diangkat menjadi bahasa Indonesia yakni antara lain sebagai berikut :
1.      Bahasa melayu tersebut sudah merupakan suatu lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan juga bahasa dalam perdangangan.
2.      Sistem bahasa Melayu tersebut sederhana, mudah untuk dipelajari dikarenakn dalam bahasa melayu tidak dikenal dengan tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
3.      Suku jawa, suku sunda dan juga suku suku yang lainnya dengan sukarela juga untuk menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia ialah sebagai bahasa nasional
4.      Bahasa melayu tersebut memiliki kesanggupan untuk dipergunakan sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.
Pada Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus tahun 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan juga kegunaan atau fungsi bahasa Indonesia dengan secara konstitusional sebagai bahasa negara Indonesia . Kini bahasa Indonesia tersebut dipakai dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia, baik itu dari di tingkat pusat ataupun juga daerah.
Dari pembahasan tersebut diatas dapat disimpulkan ialah bahwa;
·         Sumber dari bahasa indonesia ialah dari bahasa melayu
·         Bahasa Indonesia dengan secara sosiologis resmi tersebut digunakan ialah sebagai bahasa persatuan di tanggal 28 Oktober tahun 1928.
·         Dengan secara Yuridis Bahasa Indonesia tersebut di akui setelah kemerdekaan Indonesia yakni di tanggal 18 Agustus tahun 1945.
·         Bahasa Melayu tersebut di angkat menjadi bahasa indonesia disebakan karena bahasa melayu telah digunakan ialah sebagai bahasa pergaulan (lingua franca) pada  nusantara dan juga bahasa melayu sangat sederhana serta mudah untuk dipelajari dan juga tidak mempunyai suatu tingkatan bahasa.
Tahap-tahap Kongres pemuda/kongres Bahasa Indonesia
Kongres Bahasa Indonesia I di SoloJawa Tengah, Oktober 1938
Kongres Bahasa Indonesia II di MedanSumatera Utara, 28 Oktober - 1 November 1954
Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta, November 1978
Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta, 21 s.d. 26 November 1983.
Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta, 27 Oktober s.d. 3 November 1988
Kongres Bahasa Indonesia VI di Jakarta, 28 Oktober – 2 November 1993 
Kongres Bahasa Indonesia VII, Jakarta, 26-30 Oktober 1998
Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 14-17 Oktober 2003
Kongres Bahasa Indonesia IX, Jakarta, 28 Oktober-1 November 2008 
Kongres Bahasa Indonesia X, Jakarta, 28 Oktober-31 Oktober 2013



1.      Kongres I

Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Walaupun telah diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, namun secara yuridis belum ada penetapan resmi penggunaan bahasa Indonesia. Akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar RI 1945, yang salah satu pasalnya (Pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Inilah bukti sah penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
Perkembangan selanjutnya, pada tanggal 19 Maret 1947 diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen yang berlaku sebelumnya. Ini adalah penyempurnaan pertama tata bahasa Indonesia.


2.      Kongres II

Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha menjadi perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
Di era Orde Baru penyempurnaan bahasa Indonesia juga dilakukan. Pada tanggal 16 Agustus 1972 H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57, tahun 1972. EYD inilah yang digunakan sebagai pedoman utama penggunaan bahasa Indonesia yang baku. Pada tanggal 31 Agustus 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Indonesia (Wawasan Nusantara).

3.      Kongres III

Dari hasil kongres itu dapat disimpulkan bahwa peristiwa penting bagi kehidupan bahasa Indonesia. Kongres yang diadakan dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia. Dalam kongres ini disepakati pula bahwa Kongres Bahasa Indonesia dilaksanakan setiap 5 tahun sekali setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda.

4.      Kongres Bahasa Indonesia IV 

Konggres bahasa Indonesia ke empat diselenggarakan di Jakarta, pada tanggal 21 smpai tanggal 26 November 1983. Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda yang ke-55 disebutkan dalam keputusannya bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam GBHN, yang mewajibkan kepada semua warga negara Indonesia untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar tercapai semaksimal mungkin.


5.      Kongres Bahasa Indonesia V 

Konggres bahasa Indonesia yang ke lima dilaksanakan di Jakarta, pada tanggal 27 Oktober smpai 3 November 1988. Konggres bahasa yang ke lima ini dihadiri oleh tujuh ratusan pakar bahasa Indonesia dari Sabang sampai Merauke, hadir juga dari tamu undangan yakni perwakilan dari negara Malaysia, Brunei Darusalam, Sinmgapura, Belanda, Jerman, dan Australia. 

Pada konggres ini dipersembahkan pula sebuah karya besar dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pecinta bahasa di bumi Nusantara, yakni sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.


6.      Kongres Bhasa Indonesia VI 

Konggres bahasa Indonesia yang ke enam dilaksanakan di Jakrta, yakni pada tanggal 28 Oktober sampai 2 November 1993. sebanyak 770 peserta dari Indonesia hadir dalam konggres bahasa ke enam ini, tidak ketinggalan 53 peserta dari berbagai negara juga ikut sebagai tamu, yakni negara Brunai Darusalam, Australia, Jepang, Rusia, Hongkong, India, Jerman, Singapura, Amerika Serikat dan Korea Selatan. Kesimpulan dari konggres ini adalah pengusulan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia ditingkatkan statusnya menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang Bahasa Indonesia.


7.      Kongres Bahasa Indonesia Ke VII 

Konggres bahasa Indonesia ke tujuh dilaksanakan di Hotel Indonesia, Jakarta, yakni pada tanggal 26-30 Oktober 1998. kesimpulan dari konggres bahasa yang ke tujuh ini ialah mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa Indonesia.


8.      Kongres Bahasa Indonesia ke VIII 

Konggres bahasa Indonesia ke Delapan diselenggarakan di jakarta, yakni pada tanggal 14 samapi 17 Oktober 2003. Pada konggres bahasa kali ini para pakar dan pemerhati bahasa Indonesia menyimpulkan bahwa berdasarkan Konggres Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni bahasa Indonesia, maka bulan Oktober dijadikan bulan bahasa. Agenda pada bulan bahasa adalah berlangsungnya seminar bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang memperhatikan bahasa Indonesia.


9.      Kongres Bahasa Indonesia IX 

Konggres bahasa Indonesia ke sembilan dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28 Oktober sampai 1 November 2008. Konggres ini juga memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya Pusat Bahasa. Dicanangkannya tahun 2008 sebagai tahun Bahasa, maka disepanjang tahun 2008 diadakan kegiatan kebahasaan dan kesastraan. dan sebagai puncaknya dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesastraan serta 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan konggres bahasa Indonesia ke IX. 
Kongres ini membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa. Konggres bahasa ini berskala internasional yang menghadirkan pembicara-pembicara dari dalam dan luar negeri. Pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam konggres bahasa Indonesia ke IX ini.


10.  Kongres Bahasa Indonesia ke X 

Konggres bahasa Indonesia yang ke sepuluh dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28 Oktober sampai 31 Oktober 2013. kesimpulan dari konggres bahasa yang ke sepuluh ini ialah Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta paparan enam makalah pleno tunggal, di antaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang tergabung dalam delapan topik diskusi panel, dan diskusi yang berkembang selama persidangan.

Itulah kesimpulan-kesimpulan dari adanya Konggres Bahasa Indonesia dari pertama sampai konggres yang ke X. Konggres-konggres tersebut didasarkan akan kecintaan dan kebanggaan orang Indonesia yang mampu mengembangkan dan memiliki bahasa negara dan bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia.


            Sumber:
            www.WikipediaIndonesia.id,co
Ishak, Md. Sidin Ahmad. 1998. Penerbit & Percetakan Buku Melayu 1807—1960. KualaLumpur:  
DewanBahasa dan Pustaka.
Iskandar, Nur St. “Peranan Balai Pustaka dalam Perkembangan Bahasa Indonesia.” Pustaka dan Budaja, No. 8,
Th. II, 1960. Dimuat juga dalam E. Ulrich Kratz.
(Peny.). 2000. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Jamin, Muhammad. 1955. Sumpah Indonesia Raja. Bukit Tinggi: Nusantara. Dimuat juga dalam 
E. Ulrich Kratz.
(Peny.). Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX. 2000. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar